PERBAKIF (PERAHU BACA KREATIF) SEBAGAI SARANA PENUNJANG PENDIDIKAN YANG IDEAL DI DESA TANJUNG MAS BANYUASIN
PERBAKIF (Perahu Baca Kreatif) Sebagai Sarana
Penunjang Pendidikan yang Ideal di Desa Tanjung Mas Banyuasin
Kabupaten
Banyuasin merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Sumatra Selatan.
Kabupaten ini memilki Luas wilayah 11.875 Km2, yang sebagian besar
wilayah nya berada di bantaran sungai Musi. Kabupaten Banyuasin terdiri dari 21
Kecamatan, dimana Kabupaten ini fokus dalam pembangunan infrastruktur desa-desa
yang ada di Kabupaten tersebut. Salah satu kecamatan nya adalah Makarti Jaya,
Kecamatan tersebut terdiri dari 12 Desa. Pada pembahasan kali ini, penulis akan
membahas mengenai salah satu desa dari 12 desa tersebut, yaitu Desa Tanjung Mas.
Desa Tanjung Mas terletak di bantaran
sungai Musi, lokasi Desa tersebut di kelilingi oleh banyak aliran
sungai-sungai kecil yang bermuara di Sungai Musi.
Untuk
Akses menuju ke Desa tersebut menggunakan jalur sungai menggunakan Speed
Boat dari Kota Palembang atau dengan Menyebrang dari pelabuhan Tanjung
api-api. Untuk akses jalur darat cukup memakan jarak yang cukup jauh dan waktu
tempuh yang sangat lama dan juga kondisi jalan yang tidak baik untuk di tempuh
dengan kendaraan pada umum nya. Umum nya
penduduk di desa tersebut berprofesi sebagai Nelayan sungai, Petani dan
Berkebun Kelapa. Kondisi Desa yang cukup terasingkan dari Kota besar di
karenakan jarak yang cukup jauh dan akses yang cukup rumit, menjadikan Desa
tersebut terkendala di berbagai bidang. Salah satu kendala yang cukup
memperihatinkan mengenai masalah Pendidikan yang ada di Desa tersebut.
Berdasarkan
hasil survey lapangan dan wawancara kepada bapak kepala Desa Tanjung Mas Bapak
H Wero di kantor Kepala Desa mengatakan, “ Program pembangunan Infratruktur di
Desa tersebut sedang di upayakan secepat nya di bangun, agar warga desa dapat
meknikmati hasil dari pembangunan infrakstrukutr tersebut dan dapat
meningkatkan segala aspek di semua bidang baik perekonomian, Pertanian,
Pendidikan dsb” kata Bapak Kepala Desa Tanjung Mas. Salah satu perhatian kami
saat melakukan survey lapangan adalah masalah Pendidikan yang ada di Desa
tersebut. Desa tersebut memiliki lokasi yang kurang strategis dan terpencil,
berada di bantaran Sungai Musi dan di kelilingi sungai-sungai kecil yang
bermuara di Sungai Musi. Di desa tersebut terdapat SD,SMP dan SMA, namun yang
paling dekat dengan kantor kepala Desa dan pemukiman warga hanya SD nya saja.
SMP dan SMA lokasi nya cukup jauh untuk di tempuh oleh peserta didik dari rumah
nya.
Untuk
lokasi SD nya tidak terlalu jauh, namun untuk menuju kesana hanya dapat di
tempuh dengan jalan setapak. SD nya
berdiri diatas tanah berlumpur, yang jika hujan tiba maka akan menjadi lumpur
yang pekat. Bangunan SD tersebut sudah berbentuk bangunan SD pada umum nya ,
tetapi yang menjadi kendala adalah ruang kelas yang terbatas , sarana fasiltas
yang kurang memadai dan tenaga pengajar yang terbatas. Untuk ruang kelas
sendiri ,satu kelas di isi oleh 2 tingkatan peserta didik yang di batasi hanya
oleh tirai. Kemudian untuk sarana dan prasarana terdapat Meja dan kursi yang
diisi 2 sampai 3 orang per satu meja. Dan yang terkahir adalah masalah tenaga
pengajar yang terbatas, yang terkadang harus mengajar 2 tingkatan yang berbeda
dalam satu kelas, hal ini di karenakan lokasi nya yang cukup jauh dari tempat
tinggal para pengajar tersebut dan kurang nya sumber daya manusia .
Pendidikan
agar di terima di masyarakat luas dari semua kalangan harus mempunyai
standarisasi atau bersifat ideal.
Pendidikan yang ideal merupakan
Pendidikan yang memenuhi beberapa kriteria seperti pendidikan yang sesuai umur,
sesuai kapasitas kemampuan peserta didik dalam menerima, dan pendidikan yang
diberikan secara bertingkat dan bertahap. Dalam penerapan nya Pendidikan yang
sesuai umur adalah Pendidikan yang di sesuaikan dengan umur dari peserta didik
tersebut. Misal seorang anak SMA tidak cocok lagi diajarkan penjumlahan,
seharus nya mereka sudah menguasai di luar kepala materi tersebut. Kemudian
sesuai dengan kapasitas peserta didik, kapasitas seorang peserta didik diukur
dari tingkat kepahaman nya, bisa menggunakan ujian atau pemaparan materi dari
setiap peserta didik. Dan juga kapasitas peserta didik disesuaikan dengan
jenjang Pendidikan dari setiap peserta didik itu masing-masing. Misalnya
seorang anak SD, belum bisa diajarkan mengenai Al-Jabar, karena kapasitas
seorang anak SD belum mampu pada hal tersebut.
Pendidikan
ideal bisa berjalan dengan semestinya, harus di tunjang dengan sarana dan
fasilitas yang lengkap dan memadai. Sarana pendidikan umumnya mencakup semua
fasilitas yang secara langsung digunakan dan menunjang dalam proses pendidikan,
seperti gedung, ruang belajar atau kelas. Kemudian alat penunjang lain nya
berupa media pendidikan seperti meja, kursi, dan sebagainya. Sedangkan yang
dimaksud dengan fasilitas atau prasarana adalah yang secara tidak langsung
menunjang jalannya proses pendidikan, seperti halaman, kebun atau taman
sekolah, jalan atau akses menuju ke sekolah dan lain nya. Tentunya hal ini menjadi
salah satu bagian penting dalam mewujudkan Pendidikan ideal yang di
cita-citakan.
Melihat dari beranekaragam
permasalahan Pendidikan yang ada di Desa tersebut , Muncul suatu inovasi untuk
menuntaskan permasalahan tersebut. Yaitu PERBAKIF atau singkatan
dari (Perahu Baca kreatif), merupakan suatu gagasan baru berbasis
pendidikan yang bertujuan untuk membantu
pemerintah daerah Banyuasin, untuk meningkat pemerataan Pendidikan ideal yang
ada di desa-desa yang sulit diakses melalui jalur darat dan berada di daerah
bantaran sungai Musi, salah satunya desa Desa Tanjung Mas. Gagasan pembuatan PERBAKIF(Perahu
Baca Kreatif) ini menggunakan barang-barang yang sudah tidak terpakai\bekas
tetapi masih layak pakai. Pembuatan nya menggunakan perahu motor kecil
sederhana yang sudah tidak terpakai tetapi masih bisa di gunakan. Kemudian
perahu tersebut, di rubah/Modifikasi sedemikian rupa menjadi perahu baca/
perpustakaan mini yang dapat berjalan mengitari sungai-sungai yang ada di desa
tersebut.
Gagagasan Fasilitas yang di
tawarkan perahu tersebut ,yaitu terdiri dari rak-rak buku, ruang baca
sederhana. Atap dari perahu tersebut
bisa digunakan sebagai tempat anak-anak membaca saat perahu sedang
bersandar.Untuk kapasitas perahu sediri saat bersandar sekitar 10 orang, 5
didalam ruangan dek perahu dan 5 diatas atap perahu. Perahu ini bisa mengangkut
relawan berjumlah 5 orang termasuk nahkoda perahu tersebut. Perahu ini nantinya
setelah terealisasi, akan bersandar di lokasi-lokasi strategis dan aman, supaya
anak-anak desa bisa membaca di perahu
tersebut . Setiap 1 bulan sekali, Perahu tersebut akan kembali ke kota-kota
besar seperti Palembang dan Banyuasin untuk mengambil buku-buku hasil donasi
dan mengangkut tenaga pengajar sukarelawan yang baru.
PERBAKIF (Perahu Baca Kreatif) masih berupa gagasan/prototype yang akan di audiensikan ke
pemerintah daerah Kabupaten Banyuasin untuk segera terealisasi pembuatan perahu
tersebut. Selain itu, kelompok yang menggagaskan Perahu Baca Kreatif akan
menjalin kerjasama dengan badan amil zakat nasional dan juga komunitas relawan,baik terkait
pendanaan ataupun fasilitas yang lain, berupa buku ataupun suka relawan.
Kelompok yang menggagaskan Konsep Perahu Baca Kreatif yang terdiri dari beberapa
anak muda yang berasal dari Kabupaten Banyuasin yang berinovasi untuk membangun desa tertinggal terutama di bidang Pendidikan.
kelompok ini bernama Pemuda kreatif Banyuasin, kelomok ini akan terus
menelusuri desa-desa yang masih tertinggal yang ada di kabupaten Banyuasin,
terlebih khusus di bidang Pendidikan .
Oleh
karena itu, PERBAKIF (Perahu Baca Kreatif) diharapkan mampu mengatasi
berbagai permasalahan dan polemik yang berkaitan dengan bidang Pendidikan yang
masih tertinggal di desa-desa yang ada di Kabupaten Banyuasin. Serta diharapakan
agar mampu menginisiasi peran pemuda secara aktif dan produktif bagi
masyarakat, sehingga dapat terwujud suatu kesinambungan dalam kehidupan
bersama, baik bagi pemerintah, masyarakat maupun peran pemuda itu sendiri.
Sehingga kelak cita-cita bangsa Indonesia untuk menjadikan pendidikan di Indonesia
berkualitas dan mudah untuk dijangkau
oleh seluruh masyarakat. Hal ini sesuai dengan adagium yang
pernah di proklamirkan oleh Founding Fathers bangsa Indonesia Ir.
Soekarno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya.
Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia". Indonesia hebat
dengan sebuah kepeduliaan.

BalasHapusluar biasa..lanjutkan
agar indonesia maju
Terus berinovasi tuk memajukan Indonesia
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerbaik kak ๐
BalasHapusTerus berkarya dek dan tebar kebermanfaatan๐๐
Hapus